Nama umum: Kelor
Nama Latin: Moringa oleifera Lamk.
Family: Moringaceae
Bagian yang digunakan: Daun
Khasiat: Antiphlogistik
Ciri morfologi utama: Moringa oleifera Lamk. merupakan pohon kecil dari famili Moringaceae yang dikenal dengan nama kelor. Tanaman ini dapat tumbuh hingga mencapai tinggi sekitar 7–12 meter dengan batang berkayu yang relatif lunak dan bercabang banyak. Kulit batang berwarna abu-abu kecokelatan dengan permukaan agak kasar. Daunnya merupakan daun majemuk menyirip ganda yang tersusun dari banyak anak daun kecil berbentuk bulat telur hingga lonjong dengan ujung tumpul. Daun berwarna hijau muda hingga hijau tua dan tersusun secara berselang-seling pada cabang. Bunganya berukuran kecil, berwarna putih hingga krem, dan tersusun dalam rangkaian bunga berbentuk malai yang menggantung. Setiap bunga memiliki lima helai mahkota dengan benang sari berwarna kekuningan. Buahnya berbentuk polong panjang yang sering disebut sebagai “drumstick”, dengan panjang dapat mencapai 20–50 cm. Di dalam polong terdapat beberapa biji bulat yang dilengkapi dengan sayap tipis untuk membantu penyebaran.
Habitat dan budidaya: Moringa oleifera berasal dari wilayah India bagian utara, namun saat ini telah tersebar luas dan banyak dibudidayakan di daerah tropis dan subtropis, termasuk Indonesia. Tanaman ini mampu tumbuh dengan baik pada daerah beriklim panas dan relatif kering, serta memiliki toleransi yang cukup tinggi terhadap kondisi kekeringan. Tanaman ini tumbuh optimal pada tanah yang gembur, subur, dan memiliki drainase yang baik, tetapi juga dapat tumbuh pada tanah yang kurang subur. Dalam budidaya, tanaman kelor dapat diperbanyak melalui biji maupun stek batang. Penanaman biasanya dilakukan di lahan terbuka dengan paparan sinar matahari penuh. Perawatan tanaman relatif sederhana, meliputi penyiraman pada masa awal pertumbuhan, pemupukan untuk meningkatkan produktivitas, serta pemangkasan untuk merangsang pertumbuhan cabang dan produksi daun. Tanaman ini memiliki nilai ekonomi dan nutrisi yang tinggi karena hampir seluruh bagian tanaman, terutama daun, buah, dan bijinya, dapat dimanfaatkan sebagai bahan pangan maupun bahan obat tradisional.
